Di Kampus FKG UGM

 

De’ Afa dan Mas Alka di FKG 

Bu Rini di Kampus FKG

Di Depan Kampus FKG

De’ Afa dan Mas Alka di parkiran Dosen

Menjemput Ibu Pulang Kerja

Rumah Makan Boyong Kalegan
18 April 2008

Menikmati Gurameh Bakar

Mendayung Gethek

Organ Tunggal

Penyanyi

Ngudud Sehabis Makan

AFA Tores dan Jathilan


Jathilan 1

Jathilan 2

Jathilan 3

Jathilan 4

Jathilan 5

Anton’s Family
Turi, 19 April 2008

Anton, Explorationist Pertamina

Anton Junior


Anton Junior dan Umminya

Tongseng, hidangan makan malam

Arkha’s Family

Arkha

Arkha &  Ifta – Bu Rini & Afa

Arkha

Arkha-Ifta

Satu fase terlampaui: Adikku lulus pendadaran

“TA-ku entuk A Mas, dadi IPK-ku 3,00”, sms dari adikku yang nomer 3 masuk ke inbox-ku sore tadi.

Alhamdulillah, ucapku … akhirnya satu amanah telah tertunaikan dan ada seorang lagi di keluargaku yang bakal lulus dari UGM, T Sipil tepatnya.

Susilo, adikku yang nomer 3, minggu lalu pendadaran dan akhirnya dinyatakan lulus, tinggal yudisium. Bagi sebagian orang, lulus dari UGM merupakan hal yang biasa, dan kadang tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Namun kalau melihat kilas balik perjalanan adikku ini, dua jempol tanganku rasanya tak cukup untuk mengapresiasi perjuangannya.

Suatu Kamis pagi di pertengahan 2001, telpon di kamarku berdering, kuangkat, ternyata dari adikku, dia hanya bilang keluarga di rumah baik-baik saja. Terus saya tanya, yang di AKPRIND gimana, dia bilang dah dibayar. Karena curiga, saya kemudian menanyakan, yang D3 UGM gimana? Dia jawab, diterima, tapi besok Sabtu harus membayar 3,4 jt. Kutanya lagi, kalau Bapak gimana? Dia jawab lagi, kalau ndak bisa nyari pinjaman lagi karena kemarin dah pinjam untuk nambahi bayar yang AKPRIND. Ternyata adikku bermaksud bilang keterima di D3 Sipil UGM, tapi ndak ada uang untuk membayar. Saya kemudian bilang, besok siang, ada temanku yang ngantar ke rumah uangnya, meskipun saat itu rekening tabunganku kosong karena habis dikirim untuk membayar di AKPRIND. Saya hanya mempunyai cadangan gaji yang belum dibayar sebulan, 2,5 jt.

Saya kemudian telpon dua orang teman, memberanikan pinjam uang untuk nalangi biaya masuk kuliah adikku. Alhamdulillah keduanya berkenan meminjami, salah satunya malah marah-marah kalau saya sampai melewatkan kesempatan adikku sekolah karena ndak ada uang [bertahun tahun kemudian saya bari tahu kalau dia anak residen Kediri]. Saya kemudian mentransfer uangnya ke rekening adik kelas SMA 3, dan meminta tolong dia untuk mengantarkan uangnya ke rumah Klaten.

Alhamdulillah adikku jadi kuliah di UGM, meskipun D3. Dan untungnya kuliahnya lancar, awal 2005 dia dah menyelesaikan diplomanya. Saya hanya mensupport uang kuliah, dan sedikit uang jajan, kekurangannya dia cukupi dari mengerjakan proyek-proyek pengukuran tanah dan uang dari ortu [saat itu adikku yang bungsu kuliah di IAIN Suka].

Pada saat adikku yang di D3 Sipil lulus kuliah, saya sudah menikah, dan kami berharap agar dia melanjutkan extension S1 di jurusan yang sama. Pertimbangangku pada saat itu, kalau D3 nanggung, sekalian S1, meskipun D3 juga sudah bisa menjadi bekal bekerja. Dia kemudian ikut tes, dan lulus. Unfortunately, dia mesti membayar uang hampir sepuluh juta, dan hampir bersamaan dengan anak pertamaku lahir, sementara di rekeningku cuman ada 10 jt yang kupersiapkan untuk biaya kelahiran anakku. Ibuku sudah bilang ndak usah sekolah lagi saja, untungnya istriku pengertian dan mendorong adikku untuk tetap sekolah lagi, sementara kami memutar otak untuk mencari pinjaman [lagi].

Akhirnya, saya memberanikan diri, untuk meminjam ke salah satu teman KLP 2, Medina, dari rekening tabungan bersama dia, dengan janji mengembalikan pada gajian bulan berikutnya, ditambah dengan Ibu meminjam ke tetangga dan menjual perhiasannya akhirnya adikku bisa membayar biaya masuk extension T Sipil. Ibu beruntung bisa meminjam uang di tetangga, karena sebelumnya Ibu meminjam tidak diperbolehkan, namun setelah pulang, yang dipinjami uang Ibu dimarahi orang tuanya, karena minjam uang untuk anaknya sekolah kok tidak boleh. Akhirnya Ibu diberi pinjaman, dan tanpa bunga. Awal Juni 2005, adikku menyelesaikan administrasi di UGM, dan 11 Juni anakku lahir, normal tanpa sesar, laki-laki. Mungkin benar kata Mas Rovicky, rejeki berkeliaran di depanku dan berkenan menghampiriku, karena tiga bulan kemudian saya diterima menjadi pegawai permanen di salah satu oil company yang besar. Dan biaya sekolah adikku tidak menjadi masalah [besar] lagi, karena saya mempunyai istri yang bisa mengerti keluargaku.

Pas pulang ke Jogja, awal Maret kemarin saya sempat menanyakan kapan dia pendadaran, dan adikku menjawab sebelum akhir Maret dosennya pergi lagi untuk waktu yang lama. 2 minggu yang lalu dia sms kalau mau seminar, dan selasa minggu lalu pendadaran. Alhamdulillah, satu fase perjalanan adikku akan segera terlewati, dan dilanjutkan dengan fase-fase kehidupan yang lain, mudah-mudahan dia bisa melalui dengan sukses.

Dan, satu fase dalam hidupku juga hampir terlampaui, seperti pesan salah satu dosen seniorku, Pak Wartono Raharjo,”Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan peran orang tuamu, tapi kamu bisa membantunya untuk mencapai cita-citanya”, sewaktu saya singgah di ruang kerjanya, Lab Paleontologi. Almarhum Bapak, bercita-cita anak-anaknya memperoleh pendidikan yang sebaik-baiknya, meskipun dengan segala keterbatasan ekonomi yang kami miliki, karena hanya pendidikan yang baik yang akan beliau wariskan kepada kami, anak-anaknya. Untungnya Bapak sempat menghadiri wisuda D3 adikku, meskipun beliau tidak sempat menyaksikan adikku wisuda sarjana.

Selamat menjadi sarjana Adikku !! Kami bangga dengan apa yang bisa kamu capai dan raih.

Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada:

1.    1. Pak Budianto Toha, yang memberi saya kesempatan untuk menjadi asisten proyeknya di Minas, 2001-2003

2.    2. Pak Doddy Priambodo, yang memberi saya kesempatan untuk bekerja di JOB Pertamina-Talisman [OK] 2003-2005

3.    3. Trimandiaz Thamrin dan Muh Attok yang berkenan berbagi di saat dibutuhkan

4.    4. Medina, sahabat berbagi cerita dan support finansialnya di saat kami butuhkan.

5.    5. dr. Rini Maya Puspita, istriku tercinta, atas kerelaan dan pengertiaannya untuk berbagi dengan adik-adikku.

6.    6. Bapak-Ibu dan adik-adikku yang sudah berjuang untuk menggapai pendidikan yang lebih baik.

Minas, awal April 2008

~Sulastama R~

Rawa Jombor: Warung Apung Ilham
Minggu, 2 Maret 2008

Ilham 1
Sesek Penyeberangan

Ilham 3
Pesan Makanan

 

Ilham 4
Afa Mancing 1
Ilham 6
Hasil Pancingan
Ilham 7
Makanan Siap di Nikmati

 

 

Bandara Adi Sucipto
Januari 2007

Afa and Me

Alka, Afa and Me

Father and Son

Afa

Naik Kereta

PROFIL KAMPOENG SEDJARAH KELOR
Apresiasi… Eksplorasi… Edukasi…

Kampoeng Sedjarah Kelor berada di wilayah desa Bangunkerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berjarak ± 25 km dari pusat kota ke arah utara, atau ± 10 km dari ibu kota kabupaten. Dusun ini dapat dicapai melalui jalan darat (beraspal) dalam waktu ± 30 menit dari pusat kota. Kendaraan berupa bus besar dapat mencapai dusun ini dengan tempat parkir yang cukup luas dan situasi aman.
Kampoeng Sedjarah Kelor berada pada ketinggian ± 700 meter DPL dengan rerata curah hujan 3.070 mm/tahun. Dengan ketinggian tersebut, kampoeng ini berhawa sejuk (25 – 35° C). Suasana alam pedesaan diperkuat dengan adanya hamparan kebun salak, sungai yang jernih dan kolam-kolam ikan milik penduduk/kelompok serta panorama gunung merapi dari kejauhan.

Kelor
Desa Kelor

Data Pokok
Nama Desa: Kélor.
Nama Organisasi: Dewi Kadja® (Desa Wisata Kampoeng Sedjarah Kélor)
Lokasi: Kélor, Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Kode Pos 55551.
E-mail: biru_ruru@yahoo.com
Telepon: 085-6435-77238 (Harwanto) atau081-3921-66092 (M. Faisal)
Jarak dari pusat kota Yogyakarta: ± 25 km dari pusat kota ke arah utara.
Jarak dari Ibukota Kabupaten: ± 10 km dari pusat kota ke arah utara.
Ketinggian: ± 700 meter DPL.
Suhu Udara: ± 25 – 35° C

Rumah Joglo
Rumah Joglo yang didirikan pada tahun 1835 ini merupakan saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dimasa awal pendiriannya, fungsi yang lebih menonjol adalah sebagai tempat musyawarah masalah kenegaraan dan menyusun strategi dalam melawan Belanda. Pada saat clash II di Yogyakarta, menjadi markas besar tentara pelajar (TP) seluruh Jogjakarta di bawah pimpinan Kapten Martono (Menteri Transmigrasi masa pemerintahan presiden Soeharto).
Joglo Kelor merupakan joglo terbaik se-Kabupaten Sleman. Hal ini terlihat dari bagian-bagiannya yang lebih lengkap dan masih asli. Menurut pandangan metafisika, rumah joglo ini memiliki energi spiritual yang dapat dirasakan dalam radius ± 100 meter. Secara Resmi, Joglo Kelor menjadi obyek wisata pada bulan oktober 2002. Beberapa waktu lalu, sebuah Sepeda (yang dipakai oleh Kapten Martono) dan Lampu Gantung (yang digunakan untuk penerangan dalam rapat-rapat TP), di pindahkan dari Joglo ke Benteng Vredeburg.

Seni dan Budaya
Dusun Kelor memiliki beberapa kesenian tradisional, yaitu: jathilan (kuda lumping), gamelan, kethoprak, tari tradisional Yogyakarta dan sholawatan klenthingan. Tradisi yang masih terpelihara dengan baik adalah tradisi daur hidup, yaitu kelahiran, khitanan, mantenan, mitoni, brokohan selapanan. Tradisi adat jawa Suran, Saparan, Selikuran dan Ruwahan masih ada di masyarakat sampai saat ini.

Perkebunan Salak
Penduduk dusun Kelor rata-rata memiliki kebun salak yang berlokasi di sekitar dusun. Perkebunan tersebut sudah mengalami musim petik sejak tahun 1990. Panen raya setiap tahun berkisar pada bulan Juni & Desember.
Wisatawan yang datang ke dusun ini dapat menikmati perkebunan yang terbentang dari utara sampai selatan dusun Kelor. Di waktu siang, wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan petani dalam hal penanaman, pemeliharaan, pembudidayaan dan pemetikan salak CUWO (tergantung musim). Dipandu dengan cahaya ‘senthir’ di sepanjang perjalanan, wisatawan juga dapat menyusuri hamparan perkebunan ini di waktu malam. Dilanjutkan dengan api unggun di halaman Joglo …. sebuah eksotisme masa lalu yang mengesankan. Pengunjung dapat pula melakukan kemah di lapangan terbuka yang terletak di antara kebun salak.
Nama CUWO diambil dari ciri khas tandan salak yang berbentuk mangkuk (bahasa jawa: cuwo). Nama ini juga mengingatkan pada mata air yang terbentuk pertama kali di dusun Kelor.

Kelor2

Jelajah Sungai Bedhog
Sungai bedhog merupakan anak sungai yang terbentuk dari letusan gunung merapi. Sungai ini melintas di sebelah timur dusun sepanjang ± 1, 5 km dengan lebar sungai 3 – 5 meter dan kedalaman air maksimal 1 meter.
Wisatawan dapat menikmati keindahan alam sungai bedhog dan melakukan penyusuran sepanjang ± 1,5 km. Di sungai ini, kami sediakan tempat rehat maupun mengeksplorasi air.
Waktu terbaik menikmati sungai ini adalah pagi sampai siang hari. Wisatawan dapat mandi di mata air yang ada di sungai ini. Masyarakat setempat menyebut mata air ini dengan nama belik Cuwo. Sampai saat ini, belik Cuwo masih digunakan sebagian masyarakat untuk mandi. Menjelang pertunjukan kesenian jathilan, mata air ini juga digunakan untuk melakukan ritual pemandian kuda lumping.

Kelor3

Kolam Ikan
Di dusun Kelor terdapat beberapa kolam ikan milik pemuda dan penduduk. Wisatawan dapat memancing, menjaring ikan ataupun mengeksplorasi lumpur dengan cara ngesat blumbang (bedah kolam). Jenis ikan yang dipelihara adalah: nila, tawes, gurameh, emas (tombro), bawal dan lele.

Makanan Khas
Kami menyediakan makanan khas berupa nasi pondoh dan tempe bacem. Makanan ini biasanya disajikan ketika ada sambatan (gotong royong membangun rumah). Pengunjung dapat pula mempraktikkan pembuatan makanan ini di dapur tradisional yang ada. Kami juga menyediakan makanan khas pedesaan lainnya.

Kelor4

Next Page »